Penghitungan Suara Pemira Digelar di Kampus 5, Dosen dan Mahasiswa Kawal Proses Voting
Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) dilaksanakan hari ini sebagai bagian dari proses demokrasi di lingkungan kampus. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang penentuan kepemimpinan mahasiswa, tetapi juga mencerminkan praktik komunikasi publik, transparansi, serta partisipasi aktif sivitas akademika.
Proses penghitungan dan rekapitulasi suara Pemira berlangsung di Ruang MG1.01.07 Kampus 5. Kegiatan ini disaksikan oleh 16 dosen pembina organisasi mahasiswa (ormawa) dari berbagai program studi. Salah satu saksi dosen berasal dari Program Studi Ilmu Komunikasi, yaitu Rizqi Mutqiyyah, yang turut memastikan proses penghitungan suara berjalan secara terbuka dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain saksi dari unsur dosen, penghitungan suara juga diawasi oleh 33 saksi mahasiswa. Kehadiran mahasiswa sebagai saksi menunjukkan tingginya keterlibatan dan kepedulian mahasiswa terhadap proses demokrasi kampus, sekaligus menjadi bentuk kontrol sosial dalam memastikan keabsahan hasil voting.
Dalam pelaksanaannya, 14 anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mahasiswa bertugas melakukan penghitungan suara. Seluruh tahapan tersebut diawasi secara langsung oleh 7 anggota Badan Pengawas Pemilihan (Bawas) yang berperan menjaga integritas dan netralitas selama proses perhitungan berlangsung.
Dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, Pemira menjadi ruang penting dalam membangun komunikasi demokratis di lingkungan kampus. Proses penghitungan suara yang terbuka dan disaksikan oleh berbagai pihak mencerminkan prinsip komunikasi yang transparan dan akuntabel. Interaksi antara penyelenggara, pengawas, dosen pembina, dan mahasiswa menunjukkan adanya pertukaran informasi yang jelas serta upaya membangun kepercayaan publik.
Pemira tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pemilihan, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami proses komunikasi politik, partisipasi publik, dan pengambilan keputusan secara kolektif. Melalui keterlibatan aktif dalam Pemira, mahasiswa belajar bahwa demokrasi tidak hanya tentang memilih, tetapi juga tentang mengawal proses secara bertanggung jawab.
Dengan terlaksananya penghitungan suara Pemira hari ini, diharapkan hasil yang diperoleh dapat diterima oleh seluruh pihak. Lebih dari itu, Pemira menjadi refleksi komitmen kampus dalam menumbuhkan budaya demokrasi dan komunikasi yang sehat di kalangan mahasiswa.